Jumat, 14 November 2008
Kura-kura
"...Sebagai wanita band First Nation Canadian Amaham, British Columbia, aku telah belajar bahwa mimpi bisa menjadi tuntunan ajaib dalam mengatasi masalah yang mengganggu di jam-jamku terjaga. Satu mimpi terutama begitu jelas dan kuat pesannya sehingga ingatan akan mimpi tersebut akan terus hidup. Pada saat itu aku merasa sangat letih dengan kekacauan dalam hidupku. Stress di tempat kerja dan perjuangan dalam keluarga membuatku lelah secara mental, spiritual, dan emosional. Dalam mimpi, aku berjalan menyusuri jalan yang indah di tepi Danau Cultus, “danau tanpa dasar”. Sinar matahari musim panas turun melewati pepohonan cedar raksana. Udara musim panas lembap dan dipenuhi suara anak-anak yang sedang bermain burung-burung bernyanyim dan dengungan makhluk-makhluk kecil.Saat aku berjalan perlahan di jalan ini, aku melihat seekor kura-kura kecil sedang berusaha menyebrangi jalan. Takut mobil yang lewat akan menabrak kura-kura itu, aku dengan hati-hati mengambilnya dan mengembalikannya ke tepi air. Tersenyum atas perbuatan baikku, aku berdiri. Di belakangku di tepi danau seorang nenek Indian berdiri dengan tenang. Aku melihat sekeliling, tak ada orang lain di danau itu. Ia pasti datang untuk berbicara padaku.Aku menunggunya dengan takzim untuk berbicara. Akhirnya ia berbicara, menanyakan alasanku memindahkan kura-kura itu dari jalan dan meletakkannya di tepi danau. Aku menanggapinya dengan bangga “Well, di situlah seharusnya kura-kura itu berada”. Ia tersenyum dan menggelengkan kepalamnya dengan perlahan. Dengan lembut, ia berkata, “Anda tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan kura-kura kecil itu bisa sampai kejalan itu?”Saat bangun pagi harinya, aku teringat mimpi itu secara detail dan berusaha merenungkan maknanya. Apa yang ia maksud? Mengapa ia berfikir aku salah telah memindahkan kura-kura itu ? Kemudian makna itu bisa kupahami, caraku memindahkan kura-kura itu sejak semula. Aku menyadari bahwa seringkali dalam hidup ini aku tidak puas hanya mengatur hidupku sendiri, tapi aku juga berusaha mengatur orang lain dimana aku pikir mereka seharusnya bertindak. Tanpa menghormati hak orang lain untuk menjalani rute ke tempat tujuan mereka dengan kecepatan mereka sendiri, aku malah mencampurinya. Hal ini tidak saja memaksaku secara emosional, tapi juga menghalangi mereka mengambil pelajaran dari kehidupan mereka sendiri. Kemunculan sang nenek dalam mimpi itu membuatku paham bahwa aku tidak seharusnya mencampuri perjalanan saudara-saudaraku di Bumi.Don’t sweat stories (2005:103-104).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar